Pewarna Makanan Alami: Tren Lama Relevan Selamanya

ammamamo with heavenly blush yogurt

Aku yakin banget kalian yang baca post ini paling tidak pernah sekali dalam hidup kalian lihat produk makanan dan minuman yang memiliki label semacam “tanpa pengawet” atau “menggunakan pewarna alami” atau “tanpa pemanis buatan”. Aku juga yakin kita tanpa sadar punya preferensi untuk memilih produk-produk itu dibandingkan produk yang sama tanpa label. Secara umum kita tahu produk alami tanpa pengawet dan pewarna buatan pasti lebih aman untuk dikonsumsi jangka panjang. Namun, apa kita juga punya pemahaman yang cukup mengenai label tersebut atau hanya percaya dengan “kata orang”?

Waktu kecil dulu, kalau kita lagi jajan pasti guru dan orangtua suka banget wanti-wanti untuk beli jajan yang aman terutama menghindari saos cilok yang warnanya mencolok banget. Konon katanya abang ciloknya kalo bikin saos pakai pewarna kain merah biar saosnya bisa merona menggoda seperti itu. Jujur deh, kalian pasti banyak yang tetep nekat makan cilok pake saos mencurigakan itu karena akupun juga gitu lol. Tapi itu cerita lama ketika kita masih piyik dan gatau apa-apa. Sekarang di range usia yang bisa dibilang “tua tapi berjiwa muda” aku mulai sadar pentingnya memilih produk makanan yang beneran aman kayak kata guru dan orangtuaku dulu.

Growing up, aku semakin banyak mendapat informasi yang disertai support ilmiah dan logis tentang bahaya sebenarnya beberapa bahan tambahan makanan serta regulasi dari pemerintah (BPOM) mengenai produk pangan kemasan. Kita pasti pernah dengar kampanye dari pemerintah mengenai awareness terhadap pewarna makanan sintesis seperti tartrazine, quinoline yellow, carmosine, sunset yellow , ponceau 4R dan allura red terutama di makanan anak-anak. Sebenarnya apa sih bahayanya? Tim peneliti dari University of Southampton pada tahun 2007 menerbitkan hasil studi yang menunjukkan bahwa bahan tambahan pangan seperti pewarna sintesis seperti yang kusebutkan tadi dan pengawet makanan jenis natrium benzoat dapat meningkakan hiperaktivitas pada anak usia balita dan dibawah 10 tahun. Hasil penelitian inilah yang menjadi dasar bagi Uni Eropa untuk mengeluarkan undang-undang di tahun 2010 mengenai label produk yang harus mencamtukan peringatan apabila produk komersil mengandung bahan tambahan makanan tersebut. Hal itu juga mendasari peraturan-peraturan serupa di beberapa negara lain, juga di Indonesia.

Cukuplah satu penelitian ilmiah itu bikin aku betulan berhati-hati dalam memilih makanan terutama dalam bentuk kemasan, karena aku yakin #BetterNaturallyBetterFuture. Tapi apa liat dari label pada kemasan depan produk udah cukup? tidaak senaif itu teman-temanku. Dewasa ini ketika aku beli produk kemasan buat aku maupun orang lain aku selalu sempatkan semenit-dua menit untuk membaca seluruh label di kemasan, termasuk depan, belakang, samping, atas, bawah, semuanya. Beneran deh, menurutku hal termudah yang bisa dilakukan dalam memulai healthier life style adalah paham dengan food label dan bisa membandingkan produk satu dengan yang lain berdasarkan label tersebut. Kalo kalian perhatikan, cukup banyak kalian menemukan produk yang kelihatannya sehat tapi malah sebaliknya. 

Contoh gampang adalah snack sehat macam yoghurt, kurang sehat apa coba produk fermentasi ini. Kita pasti tahu berbagai khasiat yoghurt so what could be wrong? Eits coba dulu perhatikan komposisi dan nutrition-factnya. Aku sering menemukan produk yoghurt yang dari packagingnya berkesan alami banget dan sehat, tapi kalau diperhatiin ternyata mengandung pewarna sintesis dan kalori dari gulanya banyak banget. Lucunya kalian juga akan bisa menemukan produk tanpa embel-embel label “alami” namun kalo dicek komposisi dan keterangan lainnya ternyata produk tersebut tidak mengandung pewarna sintesis sama sekali, tidak memakai pengawet yang mencurigakan, dan kandungan nutrisinya juga cocok buat konsumsi harian. Itulah guys pentingnya membaca dan memahami label kemasan produk, karena selain untuk informasi label kemasan juga memiliki fungsi sebagai bahan promosi, namanya juga jualan ya kan. 

Personally, untuk snack aku adalah tipe orang yang setia sama beberapa jenis produk favorit. Aku suka banget sama minuman yang asam kayak yakult dan yoghurt. Kalo ngomongin minuman yoghurt salah satu pilihanku adalah produk Heavenly Blush. Jujur aku adalah korban iklan, karena Heavenly Blush itu punya kemasan yang gemas dan iklannya di TV selalu imut yang bikin aku penasaran nyobain semua rasanya. Ternyata emang enak daaan lebih bagus lagi produk ini selain memenuhi kriteria healthy snack yaitu kayak less sugar, less fat, dan tinggi serat, Heavenly Blush rasa Blackcurrant ini, warna alaminya berasa dari sumber alami lho!


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.